Menu

Nazhifah;

I write sometimes.

Maktub

It is written. Yakinlah akan jalan yang kamu pilih ini.

Feeling Nostalgic

The photo above reminds me of The Smiths’ Please, Please, Please Let Me Get What I Want

Good time for a change
See, the luck I’ve had
Can make a good man
Turn bad
So please please please
Let me, let me, let me
Let me get what I want
This time
Haven’t had a dream in a long time
See, the life I’ve had
Can make a good man bad
So for once in my life
Let me get what I want
Lord knows it would be the first time
Lord knows it would be the first time

 


Louder Than Bombs is one of the oldest albums I have in my music library. Come to think of it, I’ve always liked old songs, old bands –mostly British musicians actually, from The Smiths, The Beatles, Queen, Radiohead, Oasis, and to date; Coldplay–, they’re often very simple and honest. I don’t know whether calling such bands old bands is right or not, but maybe it’s not them who are old, maybe their songs are not old, maybe I’m just an old soul.

 

Slaves

In the 1800s in Rio de Janeiro, there was such a high demand from Muslim slaves in Brazil for Arabic Qurans that one bookseller imported over 100 Qurans per year to sell to the local slaves. The slaves would spend years doing extra work to pay for them.

Postingan ini sebenarnya dibuat setelah berdiskusi dengan Putri di Auditorium Kahar Mudzakir hari ini. Jadi, tadi kami bicara tentang our daily struggle to get out of the room and face the world; sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang bukan sebuah masalah besar. Kalau anda mengikuti blog saya dulu, saya pernah menulis tentang my battle with GAD; bagaimana isi kepala saya kebanyakan waktu dan apa saja yang mungkin dapat memicu dan mengeksaserbasi kecemasan saya.

Putri dan saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa mungkin, inti dari keadaan kami yang selalu cemas adalah cara Allah untuk membuat kami rely on Him. Ada yang diuji Allah dengan cara mengambil fungsi anggota geraknya, ada yang diuji Allah dengan cara membuat dia kehilangan hartanya, ada yang diuji dengan kekayaannya, sedang kami, Putri dan saya; diuji dengan isi-isi kepala kami sendiri.

Mengerti tugas diciptakan menjadi manusia di muka bumi ini apa dan sadar bahwa saya, anda, kita semua adalah pelayan Allah. We’re all His servants. We’re all His slaves. And that is the most beneficial thing that could ever happen to any of us.

Dalam perjalanan menjadi pelayan ini memang rasanya banyak yang harus dikorbankan, makanya Qolbu ini perlu sering disiram dengan hal-hal yang baik dan orang-orang yang baik. Tulisan ini dibuka dengan ilustrasi zaman dahulu dimana para budak di Brazil rela bekerja lebih lama, lebih banyak hanya untuk membeli sebuah Al-Quran. Kalau mereka memiliki willpower yang begitu kuat untuk mengetahui, mempelajari, mencoba mengerti agama Islam, agama Allah; mengapa saya yang cobaan hidupnya masih sangat cetek ini masih malas untuk belajar? Mengapa masih sulit menjadi sabar?

Usia 20 Tahun Lebih Sedikit

Kalau berbicara tentang waktu, saya tidak begitu berani. Sampai saat ini masih tidak terlalu pintar fisika dan tidak terlalu filosofis. Mungkin mengerti sedikit perbedaan pendapat Aristoteles dan Galileo/Newton dan beberapa rumus yang dipelajari di bangku SMP dan SMA serta menyukai Einstein, jadi saya coba mengutip ini,

Dalam teori relativitas, tak ada waktu mutlak yang unik; tiap individu punya pengukuran waktu sendiri yang bergantung kepada tempat dan cara geraknya.

Usia saya mungkin hampir 21 tahun kalau diukur dengan waktu universal, yang berarti saya sudah hidup di dunia selama kira-kira 6,596e+8 seconds, tapi kalau menggunakan pengukuran saya pribadi, merasa hidup atau pengalaman saya hidup, mungkin bisa lebih atau kurang daripada itu.

Bayi

Manusia lahir ke bumi melalui perantara manusia lain, besih, tanpa noda, tanpa dosa. Pada masa awal kehidupan, sekitar 2-3 minggu awal implantasi blastokista; bakal manusia, fetus, berukuran hampir mikroskopik. Bakal manusia itu kemudian tumbuh, tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 53cm pada minggu ke 40.

Hal pertama yang dilakukan manusia-manusia kecil yang dijuluki bayi itu adalah bernafas. Bayi perlu bernafas karena kelahiran berarti terputusnya hubungan plasenta dengan ibu. Ibu; perantara hidup bayi selama kurang lebih 9 bulan itu kini tidak lagi bisa menyokong metabolismenya.  Bayi mulai bernafas ketika terpapar dunia luar, perbedaan suhu mengakibatkan pendinginan kulit kemudian menimbulkan impuls sensorik, biasanya terjadi 1 menit setelah lahir. Ada pula bayi-bayi yang tidak langsung bernafas, tubuhnya progresif menjadi hipoksik, bayi terlihat membiru, dan gasping for air — akhirnya memberikan stimulus pada pusat pernafasan di otak dan biasanya menyebabkan bernafas beberapa menit pasca kelahiran.

Bayi itu kemudian tumbuh, diberi ASI ekslusif bagi yang beruntung dan susu formula bagi yang belum bisa merasakan kenikmatan tersebut. Selama 6 bulan, ayah dan ibu, atau ibu saja, menyusui bayi, memerah air susu untuk si bayi, menyimpan hasil perahan yang telah dilabeli di lemari pendingin, memastikan asupan gizi ibu cukup agar gizi bayi cukup. Pada tahap awal ini, ibu-ibu yang bekerja kemungkinan besar sedang mengambil cuti, lelah pasca persalinan perlahan menghilang tapi lelah-lelah lainnya mulai bermunculan. Ibu lelah tidak tidur cukup karena bayi menangis. Ayah lelah tidak tidur cukup karena ibu lelah bayi menangis. Ibu kelelahan memerah air susu, air susu lelah keluar. Bayi menangis. Tapi lelah ibu, lelah ayah, menghilang saat bayi tertawa. Saat bayi mulai berusaha untuk menyampaikan sesuatu, dengan mulutnya, dengan matanya, dengan anggota geraknya.

Sekarang bayi sudah bisa mendapatkan pendamping ASI. Ibu memilih untuk memasak sendiri. Menu pertama mungkin formula telur, dimasak dengan beras, bayam, minyak, garam dan air; yang setelah masak diblender halus atau disaring halus. Ibu melihat ekspresi bayi, kalau suka, ibu catat, minta ayah ingatkan. Kemudian ibu akan mengenalkan makanan-makanan lain untuk bayi. Ibu dan ayah berdoa agar bayi tidak alergi.

Ibu dan ayah membuat buku tumbuh kembang bayi. Ayah bertugas memotret dan merekam bayi ketika sedang lucu maupun ketika tidak. Ibu mengingatkan ayah besok bayi harus divaksinasi. Ayah mengemudikan mobil, ibu dan bayi duduk di kursi belakang; kata ayah, biar lebih aman. Bayi divaksinasi, ibu yang hampir menangis. Ayah melihat ibu, melihat bayi, menenangkan ibu, tersenyum pada dokter. Bayi sekarang sudah imunisasi lengkap; hepatitis, BCG, polio, DPT, HiB, PCV, rotavirus dan campak. Ibu dan ayah merasa aman. Bayi sehat.

Bayi sekarang berusia satu tahun. Ibu dan ayah senang, membagikan bingkisan dan makanan untuk tetangga, keluarga dan anak-anak di panti asuhan. Bayi masih belum mengerti banyak hal, tapi telah mengerti bahwa ibu adalah ibu dan ayah adalah ayah. Bayi memangil ibu, mamaah, memanggil ayah, dadaah. Ayah bilang, nanti kalau sudah lebih besar baru kita ajarkan untuk memanggil ibu dan ayah. Ayah bercanda, atau mau dipanggil ummi dan walid? Ibu tertawa, kata ibu, dipanggil ayah-ibu, papa-mama, ummi-walid tidak masalah, terserah bayi nanti, yang penting kita baik, bayi baik, bayi sayang.

Bayi, ayah dan ibu kemudian tumbuh bersama. Ayah mengajarkan bayi hal-hal. Ibu mengajarkan bayi hal-hal. Ayah dan ibu mengajarkan bayi kasih sayang. Mereka terus begitu hingga bayi tumbuh menjadi anak, anak tumbuh menjadi remaja, remaja menjadi dewasa. Dewasa kemudian menikahi manusia lain yang baik, menjadi ayah, menjadi ibu, memiliki bayi dan mengajarkan bayi hal-hal, mengajarkan bayi kasih sayang.

Titles

Dalam doaku

Bunga-bunga di halaman

Cahaya bertebaran

Yang fana adalah waktu

People of Introspection

am I doing right?

Bestfriends’ Graduation