Bayi

Manusia lahir ke bumi melalui perantara manusia lain, besih, tanpa noda, tanpa dosa. Pada masa awal kehidupan, sekitar 2-3 minggu awal implantasi blastokista; bakal manusia, fetus, berukuran hampir mikroskopik. Bakal manusia itu kemudian tumbuh, tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 53cm pada minggu ke 40.

Hal pertama yang dilakukan manusia-manusia kecil yang dijuluki bayi itu adalah bernafas. Bayi perlu bernafas karena kelahiran berarti terputusnya hubungan plasenta dengan ibu. Ibu; perantara hidup bayi selama kurang lebih 9 bulan itu kini tidak lagi bisa menyokong metabolismenya.  Bayi mulai bernafas ketika terpapar dunia luar, perbedaan suhu mengakibatkan pendinginan kulit kemudian menimbulkan impuls sensorik, biasanya terjadi 1 menit setelah lahir. Ada pula bayi-bayi yang tidak langsung bernafas, tubuhnya progresif menjadi hipoksik, bayi terlihat membiru, dan gasping for air — akhirnya memberikan stimulus pada pusat pernafasan di otak dan biasanya menyebabkan bernafas beberapa menit pasca kelahiran.

Bayi itu kemudian tumbuh, diberi ASI ekslusif bagi yang beruntung dan susu formula bagi yang belum bisa merasakan kenikmatan tersebut. Selama 6 bulan, ayah dan ibu, atau ibu saja, menyusui bayi, memerah air susu untuk si bayi, menyimpan hasil perahan yang telah dilabeli di lemari pendingin, memastikan asupan gizi ibu cukup agar gizi bayi cukup. Pada tahap awal ini, ibu-ibu yang bekerja kemungkinan besar sedang mengambil cuti, lelah pasca persalinan perlahan menghilang tapi lelah-lelah lainnya mulai bermunculan. Ibu lelah tidak tidur cukup karena bayi menangis. Ayah lelah tidak tidur cukup karena ibu lelah bayi menangis. Ibu kelelahan memerah air susu, air susu lelah keluar. Bayi menangis. Tapi lelah ibu, lelah ayah, menghilang saat bayi tertawa. Saat bayi mulai berusaha untuk menyampaikan sesuatu, dengan mulutnya, dengan matanya, dengan anggota geraknya.

Sekarang bayi sudah bisa mendapatkan pendamping ASI. Ibu memilih untuk memasak sendiri. Menu pertama mungkin formula telur, dimasak dengan beras, bayam, minyak, garam dan air; yang setelah masak diblender halus atau disaring halus. Ibu melihat ekspresi bayi, kalau suka, ibu catat, minta ayah ingatkan. Kemudian ibu akan mengenalkan makanan-makanan lain untuk bayi. Ibu dan ayah berdoa agar bayi tidak alergi.

Ibu dan ayah membuat buku tumbuh kembang bayi. Ayah bertugas memotret dan merekam bayi ketika sedang lucu maupun ketika tidak. Ibu mengingatkan ayah besok bayi harus divaksinasi. Ayah mengemudikan mobil, ibu dan bayi duduk di kursi belakang; kata ayah, biar lebih aman. Bayi divaksinasi, ibu yang hampir menangis. Ayah melihat ibu, melihat bayi, menenangkan ibu, tersenyum pada dokter. Bayi sekarang sudah imunisasi lengkap; hepatitis, BCG, polio, DPT, HiB, PCV, rotavirus dan campak. Ibu dan ayah merasa aman. Bayi sehat.

Bayi sekarang berusia satu tahun. Ibu dan ayah senang, membagikan bingkisan dan makanan untuk tetangga, keluarga dan anak-anak di panti asuhan. Bayi masih belum mengerti banyak hal, tapi telah mengerti bahwa ibu adalah ibu dan ayah adalah ayah. Bayi memangil ibu, mamaah, memanggil ayah, dadaah. Ayah bilang, nanti kalau sudah lebih besar baru kita ajarkan untuk memanggil ibu dan ayah. Ayah bercanda, atau mau dipanggil ummi dan walid? Ibu tertawa, kata ibu, dipanggil ayah-ibu, papa-mama, ummi-walid tidak masalah, terserah bayi nanti, yang penting kita baik, bayi baik, bayi sayang.

Bayi, ayah dan ibu kemudian tumbuh bersama. Ayah mengajarkan bayi hal-hal. Ibu mengajarkan bayi hal-hal. Ayah dan ibu mengajarkan bayi kasih sayang. Mereka terus begitu hingga bayi tumbuh menjadi anak, anak tumbuh menjadi remaja, remaja menjadi dewasa. Dewasa kemudian menikahi manusia lain yang baik, menjadi ayah, menjadi ibu, memiliki bayi dan mengajarkan bayi hal-hal, mengajarkan bayi kasih sayang.


Postingan in sebenarnya saya buat karena saya sedang ingin sekali cepat menikah lalu punya anak. Ya, sangat pragmatis sebenarnya, dipikir punya anak gampang apa? Padahal calon suami juga belum punya yang pasti… tapi namanya juga keinginan, kadang suka datang dan menetap semaunya. Ngomong-ngomong soal anak, kalau diberi rezeki sama Allah, saya ingin punya 6 orang, nanti yang perempuan namanya harus dari 4 kata, dan yang laki-laki namanya terdiri dari 3 kata. Kenapa begitu? karena… ada deh, hehehe, rasanya lebih baik saya simpan dulu sampai muncul pembicaraan serius tentang anak dengan suami saya nanti.

Rencana berkeluarga sebenarnya sudah saya masukan di timeline hidup, perkiraan menikah kapan, perkiraan punya anak pertama tahun berapa, anak kedua mengikuti kapan, anak ketiga, anak keempat, anak kelima, anak keenam… Hal-hal lain juga sudah saya masukan di life-plan tersebut. Misalnya, harus menabung berapa banyak tiap bulan biar bisa bayar nikahan sendiri (walaupun in the end of the day, papa mama saya pasti akan kukuh untuk membiayai, atau mungkin keluarga calon suami saya, tapi saya rasa lebih aman untuk punya saving sendiri. Hitung-hitung untuk safety dan misal tidak digunakan bisa dipakai untuk lanjut sekolah atau bayar biaya anak sekolah, or even better, buat investasi lain lah ya, hehehe). Kemudian rencana melanjutkan sekolah, metode mendidik anak, baiknya anak dimasukan ke sekolah mana, saya mau jadi ibu seperti apa, sampai body wash yang akan saya gunakan untuk anak-anak saya dan printilan-printilan lain juga sudah terpikirkan. Yaa, saya memang anaknya suka terlalu dini memikirkan hal-hal menikah. Tapi tetap, bismillah, semoga rencana-rencana saya diridhoi Allah ya… Aaamiinn YRA.

Biasanya, kalau sedang curhat ke mama saya, beliau sering bilang, “sabar dan berdoa.” Jurus jitu sih, dua hal tersebut… Dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan, dua langkah sederhana tapi besar ini adalah pantulan iman yang sebenarnya. Iya, sekarang saya hanya bisa sabar dan berdoa… serta menikmati dan mensyukuri hidup! Pekerjaan menunggu akan terasa biasa saja atau bahkan menyenangkan kalau kamu menikmatinya!

*postingan ini diperbarui tanggal 30/08/2018

Leave a Reply