Slaves

In the 1800s in Rio de Janeiro, there was such a high demand from Muslim slaves in Brazil for Arabic Qurans that one bookseller imported over 100 Qurans per year to sell to the local slaves. The slaves would spend years doing extra work to pay for them.

Postingan ini sebenarnya dibuat setelah berdiskusi dengan Putri di Auditorium Kahar Mudzakir hari ini. Jadi, tadi kami bicara tentang our daily struggle to get out of the room and face the world; sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang bukan sebuah masalah besar. Kalau anda mengikuti blog saya dulu, saya pernah menulis tentang my battle with GAD; bagaimana isi kepala saya kebanyakan waktu dan apa saja yang mungkin dapat memicu dan mengeksaserbasi kecemasan saya.

Putri dan saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa mungkin, inti dari keadaan kami yang selalu cemas adalah cara Allah untuk membuat kami rely on Him. Ada yang diuji Allah dengan cara mengambil fungsi anggota geraknya, ada yang diuji Allah dengan cara membuat dia kehilangan hartanya, ada yang diuji dengan kekayaannya, sedang kami, Putri dan saya; diuji dengan isi-isi kepala kami sendiri.

Mengerti tugas diciptakan menjadi manusia di muka bumi ini apa dan sadar bahwa saya, anda, kita semua adalah pelayan Allah. We’re all His servants. We’re all His slaves. And that is the most beneficial thing that could ever happen to any of us.

Dalam perjalanan menjadi pelayan ini memang rasanya banyak yang harus dikorbankan, makanya Qolbu ini perlu sering disiram dengan hal-hal yang baik dan orang-orang yang baik. Tulisan ini dibuka dengan ilustrasi zaman dahulu dimana para budak di Brazil rela bekerja lebih lama, lebih banyak hanya untuk membeli sebuah Al-Quran. Kalau mereka memiliki willpower yang begitu kuat untuk mengetahui, mempelajari, mencoba mengerti agama Islam, agama Allah; mengapa saya yang cobaan hidupnya masih sangat cetek ini masih malas untuk belajar? Mengapa masih sulit menjadi sabar?

Leave a Reply