So Long, Madiun!

Terima kasih jalan Kawis 24 dan geng marathon The Haunting of Hill House atas 1 minggu penuh bahagia (dan GERD) ini! Semoga sukses semua dan bahagia semua, insyaAllah kita bisa belajar menjadi dokter Rahmatan Lil’ Alamin selama proses pendidikan profesi ini dan nanti bisa menjadi penyembuh umat. Semoga sehat, kuat, sabar dan tambah sholehah semuanya ya! Aaamiinn.

The Gem of Malioboro Street

I used to pray in the basement of Malioboro Mall (most of the time) or the mosque near Inna Garuda Hotel whenever I visited the famous Malioboro Street of Yogyakarta. The prayer room in Malioboro Mall was not my cup of tea since it’s located in the basement, it felt hot and it can only contain few people. To my surprise, my beloved friend Tikya lead us to pray in this mosque after our visit to the Presidential Palace.

I was stunned! Never have I ever thought of Malioboro for having this hidden gem. A nice, comfortable, beautiful mosque! Tikya explained that this mosque is a grant from the former major of Jogja, Mr. Herry Zudiyanto and his siblings, Mrs. Ellys Yudhianti, and Mr. Rudi Sastyawan to remember their mother, hence the name Siti Djirzanah mosque

The interior was covered in blue granites. The building is fully air-conditioned, the lighting makes the room bigger; the mosque is indeed a beauty! The toilets are so clean, the ablution chambers are clean and they have white stones beneath; pretty! The guests are also given canvas bag to store their shoes and can later put the bag in the shoe rack inside the prayer room for safety; the canvas bag should be returned afterward.

The existence of this mosque in the crowded, full of shopping alternatives, Malioboro Street, gives us the comfort of performing prayer with ease. The mosque is a refreshment to the eye and the soul. Another one to add to my list of Things I’ll Miss from Jogja. Such a beauty, this mosque. I hope this building can help remind people of their sole purpose in this earth and may the builders, the caretakers and the owners of this mosque are given rewards by Allah.

Queensgate dan Pintu-Pintu Kebahagiaan Lainnya

Dua tahun lalu, hari ini, 21 Februari. Saya bertolak dari Yogyakarta menuju negara impian, yang selalu saya idamkan sejak SMP — Inggris, United Kingdom. Saya suka nama itu, United Kingdom — Kerajaan yang Bersatu, cantik sekali.

Udara Inggris waktu itu cukup dingin, tapi tidak sampai bersalju. Saat melangkah keluar dari Heathrow Airport rasanya seperti ingin menangis, maklum saya terbiasa dengan udara Jogja yang hangat dan tropis. Sudah siap dengan winter coat pilihan Mama, saya dan tim dari kampus bertolak menuju Central London menggunakan underground dengan Oyster -kartu transportasi super keren, bisa dipakai untuk naik underground dan bus- yang kami beli di salah satu minimarket yang ada di dalam bandara. Saya juga membeli kartu SIM untuk mempermudah komunikasi dengan orang rumah. Sebelum menaiki underground, saya bertanya-tanya dulu ke penjaga minimarket, kemudian ke officer yang kebetulan bertugas disana, “Sir, we’re going to Central London, is it right that we get on the next train?” “yes, just tap the card on the machine and you’re free to go, have a pleasant day!” kurang lebih seperti itu isi percakapan kami. Akhirnya, perjalanan saya sebagai “orang dewasa” di negara asing, Inggris negara impian, secara resmi akan dimulai!

Dulu, saya tinggal di sebuah hostel yang ramah bagi mahasiswa (baik dari harganya maupun akses yang strategis, jadi dana tidak banyak terbuang untuk transportasi) di daerah Hyde Park, tepatnya di jalan Queen’s Gate, jaraknya hanya 5 menit jalan kaki dari Imperial College London (alasan utama mengapa saya berada di Inggris saat itu). Sebenarnya hostel kami ini gampang untuk ditemukan, tapi bukan hal itu yang terjadi. We spent roughly 1 hour (or more) to find this beautiful place to stay. Internet di ponsel saya tidak bekerja dan kami harus “menjelajahi” neighbourhood sekitar stasiun Gloucester Road. Saat mencari hostel waktu itu lelah sih, tapi kalau diingat-ingat jadi lucu juga, kapan lagi bisa “hilang” di London, ya? hihihi.

Hostel yang saya tempati merupakan sebuah old, historical building jadi di dalamnya tidak ada elevator. Kamar saya berada di lantai 4, koper saya sangat besar, harus naik tangga, tapi pengelola hostel adalah seorang yang baik hati dan ramah sekali, beliau bersedia mengangkut koper saya padahal dari bentuk luar saja sudah pasti berat, jelas — waktu itu saya overpack. Keramahan pengelola hostel membuat kesan pertama saya tentang orang Inggris jadi sangat baik sekali, ah, UK, belum apa-apa sudah dibuat jatuh hati.

Setelah membereskan barang bawaan di kamar, saya dan teman-teman beristirahat sejenak. Kemudian mapping lokasi untuk event besok hari. Ternyata, tempat tinggal kami tidak jauh dari Natural History Museum, memang rezeki tidak akan kemana. London benar-benar cantik, saya tidak mengerti lagi bagaimana bisa sebuah kota menjadi begitu cantiknya tanpa perlu bersusah payah. Sepanjang perjalanan malam itu, rasanya saya ingin memotret semua sudut kota idola ini.

Pohon-pohon di sepanjang jalan, lampu-lampu rumah, lampu sen kendaraan, mobil-mobil yang parkir di depan bangunan-bangunan indah yang entah rumah atau kantor, semua indah. Seperti puisi saja kota ini. Membuat takjub, penuh pesona, bikin rindu…

Malam itu kami berjalan kaki dari Queen’s Gate, menemukan red telephone box pertama kami, kemudian berlanjut ke Cromwell road. Di Cromwell road ini anda akan melihat bangunan Natural History Museum yang berdiri dengan gagahnya, saya tidak mengerti arsitektur tapi bangunan ini pasti punya nilai arsitektur tinggi, di beberapa sisi bangunan diberi pencahayaan, membuatnya terlihat semakin mempesona. Malam itu juga saya sepakat dengan diri sendiri, besok harus main kedalam bangunan ini, tidak mau tahu. Setelah mengambil beberapa foto di depan Natural History Museum, kami belok ke Exhibition road. Exhibition road ini terdapat pintu depan Imperial College London, juga ada science museum, malam itu masih banyak orang yang berlalu lalang, masing- masing sibuk dengan kegiatannya sendiri tapi tetap harmonis. Mungkin ini rasanya hidup dalam puisi. After a few “Aaah”s and “Oooh”s saya dan rombongan beralih arah ke kiri, di Prince Consort road.

Ada surprise rupanya di jalan Prince Consort, ternyata, disana adalah letak Royal Albert Hall. Saya sudah hampir seperti orang gila, senangnya bukan kepayang. Royal Albert Hall adalah sebuah concert hall, di dalam bangunan ini sudah banyak musikus dunia yang menggelar konser, dan banyak penampilan musikal lainnya. Coldplay, band favorit saya di seantero jagad raya pernah menggelar penampilan disini. Rasanya sudah seperti bertemu Chris Martin dan kawan-kawan saja, padahal nyatanya hanya menjumpai bangunan yang syarat akan sejarah ini. Royal Albert Hall gagah sekali. Entah sudah berapa kali saya berucap kata cantik dan gagah bukan kepada manusia malam ini. TAPI INGGRIS MEMANG CANTIK SEKALI. DAN SAYA BAHKAN BELUM MELIHAT BANGUNAN-BANGUNAN YANG TERKENAL LAINNYA. DAN INI BARU HARI PERTAMA. APA KABAR BIG BEN? Mohon maaf, saya memang selalu penuh energi setiap kali mengingat Inggris.

Malam ditutup dengan makan malam yang sederhana tapi khidmat. Semua orang masih tidak bisa berhenti tersenyum, antara masih tidak percaya kalau berhasil sampai ke Inggris atau memang sedang jatuh cinta. Saya tidak bisa membedakannya.

A Tale of New York City

New York – The First Day

The roads were slippery, the after snow effect. The streets were not so busy like what I used to see in movies, it was somewhat deserted and very cold; at least to the part of the city where I got to live in.  Although that, the taxi driver, Mr. Frederick was so nice and warm, I felt welcome already.

The first thing to be done after arriving in the 2nd avenue was looking for the keys to the apartment, a search that felt like days when you have to get rid of the remaining snow and look for the particular thing with your bare hands. But I wasn’t complaining, I felt warm somehow… even when my right hand almost went totally numb. There’s just something about certain people’s company that make yourself feel okay and even turn the cold weather into a glittery shining warm day inside you.

The next thing that happened was a not-so-surprised visit from a very beautiful and nice aunt (along with her kind husband and three amazing, good, smart kids). I felt so much joy I think I could burst. I have been longing to meet the kids since the last time I saw them on 2013. After seeing enough Facebook posts about how they’ve grown so much, I’m hyped to actually meet them in person. The cold New York city was once again, warm.

The night continued to a Times Square surprise sight-seeing from the minivan, take-away The Halal Guys, a short visit to Starbucks to buy coffee (for some yes they ordered coffee, but I wasn’t in the mood to try coffee) and Sinyo’s favorite cake. I could not ask for a better first day in New York city, the concrete jungle where dreams are made of.

Wrongly put the wrong sauce on my chicken over rice, I still couldn’t stop eating. Even though at the end I wasn’t able to finish the whole thing, I was full and grateful. The effort to turn on the internet or to set up the TV was fun! We got to be in a nice living room with gray sofa and warm temperature, talked about this and that, read some useful handbooks and did some research. Again, there’s just something about that certain someone’s company, he makes the warm warmer and life better.


“In New York, you’ve got to have all the luck.” said Charles Bukowski, and I have it already, well at least; that’s what I think. I slept with a happy heart that night, after all, I was in New York city.